Sleman (MTsN 10 Sleman)–Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, MTsN 10 Sleman kembali melaksanakan  salat Jumat. Bertempat  di Masjid Miftakhul Khair salat diikuti oleh guru murid dan pegawai, Jumat (27/2/2026).

Imam dan  Khatib Muhammad Asro Al Aziz, S.Ag  menyampaikan khutbah mengenai pentingnya konsistensi (istiqamah) dalam beribadah terutama pada bulan Ramadhan.

Ia  mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa yang harus disambut dengan kegembiraan. Allah SWT telah menyiapkan “hidangan” pahala yang berlipat ganda, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

“Peluang pahala  sudah Allah siapkan, tinggal kita sebagai umat Islam, mau mengambilnya atau tidak,” ujarnya.

Khatib menyoroti fenomena sosial di mana semangat beribadah, seperti salat berjamaah di masjid dan tadarus, biasanya semangat membara  di sepuluh hari pertama Ramadhan. Memasuki pertengahan bulan, semangat tersebut sering kali meredup.

Fenomena di atas menunjukkan ketidakkonsistenan beribadah. Ia  menyitir QS. An-Nahl ayat 92, mengibaratkan orang yang tidak istiqamah seperti seorang perempuan yang memintal benang dengan kuat, namun kemudian mengurainya kembali hingga cerai-berai.

“Jangan sampai usaha ibadah yang sudah kita bangun di awal bulan, hilang begitu saja karena kita tidak istiqamah di pertengahan dan akhir,” tegas M. Asa.

Salah satu penyebab hilangnya istiqamah adalah sikap yang terlalu “berhitung” dengan pahala. Khatib mengingatkan bahwa meski janji pahala begitu besar—seperti salat fajar yang lebih baik dari dunia seisinya—hal itu bukan alasan untuk merasa aman dan berhenti beramal. “Kita tidak pernah tahu amalan mana yang benar-benar diterima oleh Allah SWT, tegas M.Asa.

Untuk memperkuat pesan, khatib memaparkan  kisah sahabat Nabi bernama Tsauban bin Bujdad. Tsauban adalah sahabat  nabi  yang sangat rajin beribadah dan selalu menempati shaf terdepan di masjid Madinah.

Suatu ketika, Rasulullah mendapati Tsauban tidak hadir di masjid dan memutuskan untuk menjenguknya. Setelah menempuh perjalanan kaki selama tiga jam, Rasulullah mendapati Tsauban telah wafat. Sebelum wafat, Tsauban meninggalkan tiga pesan penyesalan kepada istrinya:

  1. “Kenapa tidak lebih jauh?” (Menyesal mengapa jarak rumah ke masjid tidak lebih jauh agar pahalanya lebih besar).
  2. “Kenapa tidak yang baru?” (Menyesal saat memberikan baju bekas kepada pengemis, mengapa tidak memberikan baju yang lebih baru).
  3. “Kenapa tidak semua?” (Menyesal saat menyedekahkan sebagian roti, mengapa tidak menyedekahkan seluruhnya saat melihat pahala yang dijanjikan).

“Dari kisah di atas dapt diambil simpulan bahwa sahabat nabi yang istiqamah dalam ibadah masih menyesal ingin terus menambah pahala. Bagaimana  dengan  kita yang belum istiqamah dalam ibadah, mestinya akan jauh menyesal, “beber  M.Asra.

Mengakhiri khotbahnya, khatib  mengutip QS. Al-Ahzab ayat 66 tentang penyesalan penduduk neraka yang ingin kembali ke dunia untuk taat. “Karena umur adalah rahasia Allah dan kita tidak tahu kapan akan dijemput, maka Ramadhan tahun ini harus dijadikan momentum perubahan, “ujarnya. (nsw)

“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai cara menjadi hamba yang lebih baik. Semoga keistiqamahan ini membawa kita berkumpul bersama Rasulullah SAW di surga-Nya,” pungkasnya yang kemudian ditutup dengan selawat dan doa. (nsw)