SLEMAN (MTsN 10 Sleman) Perilaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dinilai semakin merajalela. Perbuatan yang dilarang dalam agama ini tanpa malu-malu disajikan di dunia maya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Menghadapi fenomena tersebut, Ustaz Insan Yudha Pranata membahasnya dalam khutbah salat Jumat di lingkungan MTsN 10 Sleman pada Jumat (13/6/2026).
Bertempat di Masjid Miftakhul Khoir MTsN 10 Sleman, ibadah rutin ini diikuti oleh kepala madrasah, guru, pegawai, dan murid.
Dalam khutbahnya, Ustaz Insan Yudha mengangkat tema “Perilaku LGBT: Pembawa Murka Allah”. Ia mengingatkan jemaah tentang dahsyatnya azab yang menimpa kaum Nabi Luth AS, sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 80-84. Kala itu, kaum Nabi Luth melakukan penyimpangan seksual dan menolak peringatan nabi, hingga akhirnya tempat tinggal mereka dibalikkan dan dihujani batu sampai hancur binasa. Sejarah kelam tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia saat ini agar tidak mengundang murka Allah swt.
Perilaku menyimpang seperti homoseksual dan lesbian dinilai sangat berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Khatib memaparkan tiga dampak kerusakan utama yang ditimbulkan oleh fenomena ini:
- Runtuhnya fitrah kesucian manusia yang dapat memicu datangnya azab Allah.
- Rusaknya tatanan moral yang mengancam eksistensi dan kepunahan generasi.
- Timbulnya ancaman kesehatan yang nyata.
“Kita harus menyadari bahwa perilaku LGBT merupakan salah satu media utama penularan penyakit mematikan seperti HIV/AIDS. Jika fitrah manusia sudah rusak, maka moral bangsa akan hancur dan generasi masa depan akan terancam,” tegas Insan Yudha di hadapan para jemaah.
Menyikapi fenomena yang kian marak, khatib menekankan tiga sikap tegas yang wajib diambil oleh setiap Muslim:
- Keyakinan Mutlak: Menanamkan keyakinan bahwa LGBT adalah perbuatan dosa besar yang dilarang agama, sehingga tidak boleh ditoleransi atau didukung dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM), sekalipun pelakunya adalah orang terdekat.
- Tindakan Preventif (Pencegahan): Di era digital saat ini, konten yang menormalisasi penyimpangan tersebut sudah merambah ke berbagai kalangan tanpa mengenal usia, termasuk ke lingkungan sekolah. Umat Islam diimbau aktif memfilter media sosial dan melaporkan akun-akun yang menyebarkan konten menyesatkan.
- Sisi Kemanusiaan dan Edukasi: Khatib mengingatkan agar umat Islam tidak kehilangan rasa kemanusiaan jika menemukan kasus di lingkungan terdekat. “Jika ada saudara atau sahabat kita yang terjerumus, kita wajib membenci perbuatannya, tetapi tetap merangkul individunya. Bimbing mereka untuk bertobat, doakan kebaikan mereka, dan bantu mereka kembali ke jalan yang benar,” lanjutnya.
Memasuki khutbah kedua, khatib kembali mengingatkan bahwa paham penyimpangan ini telah merambah ke berbagai lingkup kehidupan. Jemaah diajak untuk terus meningkatkan kewaspadaan, membentengi keluarga, dan senantiasa memohon ampunan serta perlindungan kepada Allah SWT.
Ibadah salat Jumat di Masjid Miftakhul Khoir tersebut kemudian diakhiri dengan doa bersama. Jemaah berharap agar Allah SWT senantiasa menjaga diri, keluarga, dan bangsa Indonesia agar menjadi negeri yang aman, makmur, dan penuh ampunan (baldatun toyyibatun warobbun ghafur). (nsw)