SLEMAN  (MTsN 10 Sleman) Geliat pelestarian budaya Jawa di kalangan generasi muda kembali membuahkan prestasi gemilang. Royyan Az-Dzikra Junus, murid berbakat MTs Negeri 10 Sleman, sukses mengukir prestasi dengan meraih juara kedua dalam ajang Lomba Sesorah Remaja tingkat SMP/MTs Kompetisi Bahasa dan Sastra. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman pada Sabtu (4/7/2026).

Pergelaran yang mengusung tema “Mengeti Ambal Warsa DIY kaping 271” tersebut melalui proses penyaringan yang ketat. Sebelum melangkah ke babak final secara luring, seluruh peserta wajib melewati seleksi daring berupa kurasi video yang berlangsung pada 10 Maret hingga 10 Mei 2026. Dari puluhan pendaftar, dewan juri menyaring 30 talenta terbaik untuk unjuk gigi secara langsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Pada hari puncak, sebanyak 28 finalis bersaing ketat menyajikan penampilan terbaik mereka.

Setiap finalis ditantang untuk berpidato selama maksimal 10 menit dengan mengenakan busana Jawa lengkap gagrag Ngayogyakarta. Penilaian dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek wicara (isi, bahasa, pelafalan, dan artikulasi) sebesar 35%, wiraga (busana, gestur, dan penataan posisi) 30%, wirasa (penghayatan, ekspresi, dan penyampaian pesan) 20%, serta wirama (intonasi dan dinamika suara) sebesar 15%.

Keberhasilan Royyan menembus jajaran juara utama merupakan buah dari kerja keras dan dedikasi yang konsisten. Di bawah pendampingan dari guru bahasa Jawa MTsN 10 Sleman, Gayatri Kumala Wardani, Royyan telah mematangkan persiapannya selama kurang lebih tiga minggu sebelum kompetisi berlangsung. Latihan rutin dilakukan demi menyempurnakan aspek pelafalan teks maupun olah tubuh (wiraga).

“Mengikuti lomba sesorah di ajang Kompetisi Bahasa dan Sastra 2026 ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang berharga untuk mengasah kemampuan berpidato, memperdalam bahasa Jawa, sekaligus ikut serta melestarikan budaya warisan leluhur yang adiluhung,” ungkap Royyan usai pengumuman pemenang.

Acara tahunan ini terbukti tidak sekadar menjadi ajang berburu piala atau gelar juara belaka. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi sarana strategis dalam membangun rasa percaya diri generasi muda, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta yang mendalam terhadap kekayaan budaya, khususnya sastra Jawa.

Berkat kemenangan ini, Royyan dan kedua juara lainnya resmi mengantongi tiket untuk melaju ke kompetisi sesorah di tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mewakili Kabupaten Sleman. Guna menghadapi tantangan yang diprediksi jauh lebih kompetitif di tingkat provinsi, ia berkomitmen untuk berlatih lebih tekun dan memperkaya referensi visual lewat dokumentasi sesorah para maestro. Royyan berharap dapat kembali mempersembahkan hasil terbaik dan membawa pulang gelar juara untuk madrasahnya. (gkw)