Sleman  (MtsN 10 Sleman). Prestasi membanggakan kembali diukir oleh Royyan Az-Dzikra Junus, murid kelas 9 MTsN 10 Sleman yang sukses meraih Juara 1 Lomba Sesorah dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026. Prestasi membanggakan itu berlanjut dengan diundangnya Royyan menjadi narasumber dalam podcast resmi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY pada Selasa (13/10/2026).

Acara yang disiarkan secara langsung dari studio Dinas Kebudayaan DIY melalui kanal YouTube tasteof_jogja pada pukul 13.00 WIB ini bertajuk Pariwara Kabudayan: Biwara Sastra #4 dengan tema “Sesorah Gen Alpha Ngomong Jawa”. Didampingi guru pembimbing Bahasa Jawa, Gayatri Kumala Wardani, Royyan hadir membagikan inspirasi tentang bagaimana generasi muda menyikapi dan melestarikan budaya lokal.

Dipandu oleh M. Iqbal Rasyid dari Kalurahan Trimurti, podcast edisi menyambut Bulan Bahasa 2026 ini mengupas tuntas relevansi seni sesorah bagi generasi muda. Mengusung tagline “Nguri-uri basa, ngrembakakake sastra, lan nguwatake budaya Jawa”, podcast berdurasi 90 menit tersebut menjadi panggung bagi Gen Alpha dan Gen Z untuk menunjukkan bahwa berbahasa Jawa adalah hal yang membanggakan.

Sebagai satu-satunya murid yang menyabet juara 1 tingkat provinsi yang mewakili unsur madrasah di antara para pemenang dari jenjang SD, SMP, dan SMA se-DIY, Royyan mengisahkan perjalanan panjangnya. Mengidolakan sosok seniman Ki Seno Nugroho dan Butet Kartaredjasa,

Royyan membeberkan dinamika berlatihnya, termasuk evaluasi atas kesalahan teknik laras nada tembang Pocung pada ajang tingkat kabupaten, yang kemudian berhasil ia perbaiki hingga mampu menyabet gelar Juara 1 di tingkat provinsi.

Dalam segmen Cerita Sang Pembombong, Gayatri Kumala Wardani menceritakan proses pembimbingan dan alasan memilih cabang sesorah untuk Royyan. Menurutnya, potensi dan karakter kuat yang dimiliki Royyan menjadi kunci utama keberhasilan tersebut.

Momen haru pun terungkap saat pembacaan pemenang di tingkat provinsi. Gayatri menceritakan detik-detik menegangkan saat namanya tak kunjung dipanggil pada posisi Juara Harapan hingga Juara 2, hingga akhirnya nama Royyan secara mengejutkan diumumkan sebagai Juara 1.

“Dukungan penuh juga datang dari pihak madrasah. Sudah menjadi kebiasaan positif di MTsN 10 Sleman, setelah shalat Zuhur disampaikan nama murid dan cabang lomba yang akan diikuti untuk didoakan bersama-sama dengan melantunkan Surah Al-Fatihah,” tutur Gayatri.

Mengakhiri bincang-bincang tersebut, Gayatri menegaskan optimisme terhadap masa depan bahasa Jawa di era digital. Menurutnya, platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dapat menjadi media efektif agar bahasa Jawa tetap relevan, selama kreator konten mampu menyajikan keunikan dan ciri khas tersendiri.

“Sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, bahasa Jawa akan tetap lestari mengikuti perkembangan zaman apabila seluruh pihak, mulai dari orang tua, guru, komunitas budaya, hingga pemerintah, terus bersinergi dan berkontribusi aktif,” pungkasnya. (gkw)