Sleman ( MTsN 10 Sleman) MTsN 10 Sleman kembali menggelar kegiatan kokurikuler Jumat pagi (07.00–09.50 WIB). Bertempat di Masjid Miftakhul Khair, materi diisi ranah keagamaan dengan peserta kelas 7,8, dan 9. Kali ini, tema yang diangkat hal yang dekat dengan dunia remaja, yakni pembuatan konten dakwah digital. Materi disampaikan Insan Yudha Pranata, S.Hum, M.Hum., guru pengampu Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Jumat (18/9/2026)
Kegiatan diawali dengan pemaparan sirah nabawiyah mengenai perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Yudha menjelaskan bahwa pada masa Nabi, dakwah awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya berkembang secara terang-terangan seiring petunjuk Allah SWT.
Hal itu menunjukkan bahwa dakwah dilakukan dengan berbagai strategi sesuai kondisi zamannya. Yudha mengingatkan para siswa tentang hadis masyhur, “Ballighu ‘anni walau ayah” yang artinya, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari). “Tugas kita turut menyampaikan dakwah sesuai kemampuan, “tegas Yudha.
Lebih lanjut Yudha menguraikan bahwa seiring perkembangan zaman dan teknologi, peluang berdakwah kini semakin terbuka lebar melalui berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Namun, di sisi lain, era digital juga dibanjiri oleh konten negatif seperti berita hoaks, perundungan (bullying), flexing, FOMO, konten vulgar, ujaran kebencian, glorifikasi kenakalan, toxic relatoinship, perilaku konsumtif, hingga prank yang merugikan.
“Menjadi tugas kita untuk melawan konten negatif dengan konten dakwah. Meskipun algoritma kita masih kalah dengan konten-konten lain, tetapi ingatlah bahwa menyampaikan satu ayat itu sangat berarti,” tegas Yudha di hadapan audiens,
Usai pemataran materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan konten yang mencakup teknik penyusunan isi, pemilihan media, hingga pengaturan waktu unggah (rundown). Dalam kesempatan tersebut, Yudha juga mengajak para guru untuk turut serta mensukseskan kegiatan.
“Mohon kerja sama Bapak Ibu wali kelas untuk mendampingi kelas masing-masing,” ujarnya. Selanjutnya murid menuju kelas masing-masing untuk membentuk kelompok, merancang isi konten dan menentukan media yang dikehendaki. (nsw)