Sleman (MTsN 10 Sleman). MTsN 10 Sleman menggelar kegiatan Penguatan Moderasi Beragama untuk Mewujudkan Madrasah yang Harmonis dan Berintegritas, Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB diikuti guru dan pegawai MTsN 10 Sleman dan bertempat di Aula Laboratorium MTsN 10 Sleman. Bertindak sebagai narasumber Ustaz Riandi Pratama,LC seorang Hufaz dan pengasuh pondok pesantren.

Kepala MTsN 10 Sleman, Paijo, S.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada guru dan pegawai yang tetap antusias mengikuti kegiatan. Menurutnya, moderasi beragama menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan lingkungan madrasah yang aman, damai, dan penuh semangat kebersamaan.
“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru serta tenaga kependidikan yang telah mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat. Nilai-nilai moderasi beragama harus terus kita tanamkan agar tercipta suasana kerja yang harmonis dan pelayanan pendidikan yang semakin baik,” ungkap Paijo.
Riandi Pratama, Lc., menyampaikan materi pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya mengurangi atau mengubah ajaran agama, melainkan cara beragama yang adil, seimbang, dan menjauhi sikap ekstrem.
“Moderasi beragama berarti menjalankan ajaran agama secara proporsional, tidak berlebihan, dan tidak meremehkan ajaran agama. Kita menjadi pribadi yang taat tanpa mudah menyalahkan atau menghakimi orang lain,” jelasnya.
Riandi menjelaskan bahwa konsep moderasi beragama sejalan dengan nilai wasathiyah yang berarti adil, seimbang, dan bijaksana. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 yang menyebutkan bahwa umat Islam adalah ummatan wasathan atau umat pertengahan.
Mengutip penjelasan Ibnu Katsir, Riandi menerangkan bahwa umat Islam disebut sebagai umat pertengahan karena berada di antara dua sikap yang bertolak belakang, yaitu sikap berlebihan dalam beragama (ghuluw) dan sikap meremehkan ajaran agama. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk menjalankan ajaran agama secara seimbang, tanpa merasa diri paling benar maupun mudah menganggap orang lain bersalah.
Dalam pemaparannya, Riandi juga mengulas empat pilar moderasi beragama yang menjadi penguat kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Keempat pilar tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh warga madrasah dalam membangun kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghormati.
Melalui kegiatan ini, MTsN 10 Sleman berkomitmen untuk terus menguatkan implementasi moderasi beragama dalam budaya kerja maupun proses pembelajaran. Dengan demikian, madrasah diharapkan mampu melahirkan insan yang berakhlak mulia, memiliki semangat kebangsaan, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. (nsw)