Sleman (MTsN 10 Sleman).  Guru dan pegawai MTsN 10 Sleman mendapat pencerahan mengenai nilai dasar (core values) ASN Ber-AKHLAK. Arahan  tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kasi Pendidikan Madrasah (Dikmad) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Hj. Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., dalam acara Pembinaan Guru dan Pegawai MTsN 10 Sleman  yang digelar pada Senin (6/7/2026). Bertempat di Ruang Kelas Baru Gedung SBSN, kegiatan ini mengusung tema  “Transformasi Budaya Kerja dan Penguatan Disiplin ASN” sebagai cetak biru menuju madrasah yang unggul dan berintegritas. Materi pembinaan ini sekaligus menjadi rincian teknis atas arahan yang sebelumnya disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakanmenag) Sleman, H. Nadhif, S.Ag., M.Si.

Hj. Tri Wahyuni menekankan agar setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di lingkungan madrasah dapat mengimplementasikan nilai-nilai BerAKHLAK yakni Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif secara nyata dalam ritme kerja sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa seluruh ASN  harus melebur dalam satu komitmen yang sama, yakni memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat serta memegang teguh akuntabilitas dan loyalitas kepada ketugasan masing-masing.

Ia menekankan pula bahwa   orientasi kerja ASN saat ini harus bergeser  demi kepentingan publik. “Jiwa melayani serta membantu masyarakat, dalam hal ini murid, wajib tertanam kuat dalam diri setiap ASN. ASN harus melayani, bukan dilayani,” tegas Tri Wahyuni di hadapan  peserta pembinaan. Untuk itu, ASN dalam melaksanakan tugas harus kompak dan bersatu ibarat membentuk  shaf dalam salat. “Tidak ada lagi super individu, yang ada super team, “tegasnya

Lebih lanjut, Tri Wahyuni memaparkan bahwa transformasi budaya kerja tidak boleh berhenti pada tataran administrasi, melainkan harus menyentuh ranah kelas melalui revolusi dan inovasi pembelajaran. Ia mendorong para guru untuk meninggalkan paradigma lama yang bersifat teacher-centered (berpusat pada guru) dan beralih ke paradigma baru yang student-centered (berpusat pada murid). Di akhir arahannya, ia menggarisbawahi indikator kesuksesan pendidik masa kini.  “Kompetensi guru tidak lagi diukur dari seberapa banyak mereka berbicara atau mendominasi kelas sebagaimana paradigma lama, melainkan dari seberapa besar ruang gerak dan stimulasi yang diberikan guru hingga mampu menghadirkan perubahan serta perkembangan positif bagi diri murid, “urainya.

Hal senada dipertegas oleh Pengawas Madrasah, Asih Budiati, S.Pd., M.Sc., yang kembali menekankan pentingnya aspek inovasi dan kreativitas guru dalam merancang proses pembelajaran agar ekosistem madrasah yang unggul dapat segera terwujud. (nsw)