Sleman (MTsN 10 Sleman) Dalam rangka merayakan Hari Raya Iduladha 1447 H, keluarga besar MTsN 10 Sleman menggelar kegiatan latihan kurban pada Kamis (28/05/2026). Kegiatan yang melibatkan siswa kelas 7, 8, dan 9, serta guru dan pegawai ini dipusatkan di area halaman dan dome sekolah yang disulap menjadi lokasi pemotongan hewan sekaligus area memasak massal.

Kegiatan rutin tahunan ini diawali dengan pemotongan satu ekor sapi kurban. Uniknya, daging kurban tersebut tidak hanya dibagikan secara mentah, melainkan didistribusikan ke dalam 48 kelompok siswa untuk memfasilitasi lomba memasak bersama. Sementara itu, sebagian daging lainnya disalurkan kepada para tenaga honorer (GTT dan PTT), mahasiswa PPL, serta siswa-siswi yang membutuhkan.

Kepala MTsN 10 Sleman, Paijo, S.Ag., di sela-sela memantau pendistribusian daging menjelaskan bahwa esensi dari latihan kurban ini adalah sebagai bentuk edukasi nyata bagi para siswa. “Anak-anak dikenalkan sejak dini untuk berlatih ibadah kurban demi menumbuhkan jiwa solidaritas,” terangnya.
Paijo menambahkan bahwa momentum Iduladha atau Hari Raya Kurban yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia ini harus dimaknai melampaui ritual fisik semata. Kegiatan ini meneladani kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim AS saat menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putra tunggal yang amat dicintainya, Nabi Ismail AS.

Nabi Ismail adalah buah dari perjuangan panjang dan untaian doa yang dikabulkan. Namun, saat ia tumbuh menjadi remaja yang taat dan membawa kebahagiaan bagi orang tuanya, keikhlasan Nabi Ibrahim diuji melalui perintah berkurban. Melalui musyawarah, ayah dan anak ini sepakat tunduk pada perintah-Nya dengan penuh kesabaran. Atas ketaatan luar biasa tersebut, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar tepat sebelum penyembelihan terjadi.
Nilai historis dan spiritual inilah yang mendasari ikhtiar MTsN 10 Sleman dalam mengasah kepedulian sosial di lingkungan madrasah. Melalui praktik berbagi daging kurban, siswa diajak belajar melatih keikhlasan dan meruntuhkan ego pribadi.
“Walaupun belum seberapa yang dapat kami berikan, dari situlah kami terus berusaha dan berikhtiar agar rasa kebersamaan serta kepedulian antarsesama dapat tumbuh dan hidup pada kepribadian masing-masing orang,” imbuh Paijo.
Madrasah meyakini bahwa setiap ikhtiar baik yang didasari ketulusan pasti akan dibukakan jalan kemudahan oleh Allah SWT. Dengan modal kebersamaan yang kuat, tujuan yang jelas, keterbukaan, serta koordinasi dan komunikasi yang sehat, menanamkan karakter peduli sesama pada generasi muda bukanlah hal yang mustahil. Karakter mulia yang tertanam sejak dini inilah yang kelak diharapkan mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, nyaman, damai, sejahtera, dan penuh kebahagiaan. (paijo/nsw)