SLEMAN (MTsN 10 Sleman)–MTsN 10 Sleman melaksanakan Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad saw tahun 1447 H. Bertempat di Dome MTsN 10 Sleman peringatan mengusung tema Peringatan Isra Miraj Kita Tingkatkan Iman, Akhlak, dan Prestasi Belajar. Acara diikuti siswa, guru, dan pegawai madrasah pukul 08.00 -10.00 WIB

Kepala MTsN 10 Sleman Paijo, S.Ag., MPd, dalam sambutannya menekankan pentingnya meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong siswa untuk percaya diri dengan kelebihan masing-masing.
“Gunakan hidup ini untuk meraih prestasi terbaik. Jadikan momen pengajian untuk mengasah karakter yang kuat dan terbiasa dalam kebaikan,” pesan Paijo
Hadir sebagai narasumber, Ustaz Kiki Fardiansyah Wijaya yang dikenal sebagai motivator. Ia mengawali tausiah dengan lantunan selawat bersama. Dalam paparannya, Ustaz Kiki mengisahkan latar belakang Isra Miraj yang terjadi pada tahun kesedihan (Amul Huzni) setelah wafatnya Siti Khadijah dan paman Nabi, Abu Thalib.
Ia memberikan analogi untuk menjelaskan peristiwa Isra Miraj yang diingkari kaum kafir Quraisy. “Ibarat seekor semut yang naik pesawat dari satu kota ke kota lain dalam waktu singkat. Bagi semut lain mungkin tidak percaya, tetapi dengan bantuan teknologi pesawat, hal itu menjadi mudah. Begitu pula Isra Miraj, dengan bantuan kekuasaan Allah, semuanya menjadi mungkin,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Kiki menekankan bahwa pelajaran terpenting dari Isra Miraj adalah perintah salat. Salat yang benar akan membentuk pribadi yang lebih baik dan mendorong prestasi yang lebih hebat. Ia mengutip QS. Thaha: 132 yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memerintahkan keluarganya (dan umatnya) untuk melaksanakan shalat dan bersabar dalam bekerjanya, menegaskan bahwa Allah-lah yang memberi rezeki, bukan manusia, dan bahwa kesudahan yang baik di akhirat adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Ustaz Kiki juga memberikan penekanan khusus pada ibadah salat sebagai kunci prestasi. “Jika ingin pribadi lebih baik dan prestasi lebih hebat, perbaiki salatmu. Salatlah karena cinta kepada Allah, bukan sekadar kewajiban,” ungkapnya. Ia mengingtkan tantangan kesalehan menurut Al-Ghazali, yakni tipu daya setan, nafsu, dan teman pergaulan.
Diingatkan pula bahwa hamba yang beriman memberi bukti cinta kepada penciptanya, Allah SWT dengan ciri-ciri
- Sering berkomunikasi dengan-Nya melalui doa dan ibadah.
- Gemar berkumpul dengan orang-orang yang mencintai-Nya.
- Berusaha menyenangkan-Nya dengan amal saleh.
Menutup tausiahnya, ia mengingatkan jamaah untuk menjauhi dosa besar seperti syirik, durhaka kepada orang tua, hingga sumpah palsu. Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, beliau menyebutkan empat tantangan kesalehan di zaman modern, yaitu: kesenangan duniawi yang berlebihan, tipu daya setan, pengaruh teman pergaulan, dan hawa nafsu.
Acara diakhiri dengan doa bersama, memohon agar keluarga besar MTsN 10 Sleman diberikan kekuatan iman dan kemudahan dalam menuntut ilmu.(nsw)