Kemenag Sleman  News (MtsN 10 Sleman) Royyan Azdzikra Junus, murid kelas 8A MTs Negeri 10 Sleman, sukses mengukir prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Jawa dalam ajang Manu #6 Competition. Kompetisi tahunan tingkat SLTP sederajat se-DIY dan Jawa Tengah tersebut diselenggarakan oleh MA Nurul Ummah pada Sabtu, 17 Januari 2026. Keberhasilan Royyan ini menjadi bukti nyata kemampuan generasi muda dalam menguasai bahasa daerah sekaligus menyuarakan isu-isu kontemporer yang relevan.

Dalam pidatonya, Royyan secara cerdas mengusung tema moderasi beragama sebagai instrumen utama untuk mempererat kerukunan umat manusia di Indonesia. Ia memaparkan bahwa kekayaan karakter dari berbagai suku dan agama di tanah air seharusnya tidak menjadi pemicu konflik, melainkan menjadi kekuatan kolektif apabila dikelola dengan prinsip moderasi. Sebagai representasi generasi muda, Royyan turut mengajak rekan sejawatnya untuk senantiasa menanamkan sikap toleransi, saling menghormati, dan menjauhkan diri dari perilaku diskriminatif dalam pergaulan sehari-hari.

Pesan perdamaian tersebut diperkuat oleh Royyan dengan melafalkan Surah Al-Mumtahanah ayat 8, yang berisi perintah Allah SWT untuk senantiasa berbuat baik dan berlaku adil kepada seluruh manusia, termasuk kepada kaum nonmuslim. Selain landasan teologis, ia juga menyisipkan kearifan lokal melalui pepatah Jawa, “Sapa nandur bakale ngundhuh”. Filosofi ini digunakannya untuk memotivasi kaum muda agar konsisten melakukan kebajikan dan menghindari kemungkaran demi membentuk karakter serta moralitas yang kokoh.

Sebagai penutup yang impresif, Royyan melantunkan tembang Macapat Pocung dari Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Melalui bait yang berbunyi, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara,” ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan hanya akan sempurna jika diiringi dengan niat tulus dan realisasi dalam tindakan nyata untuk menekan hawa nafsu. Prestasi membanggakan ini pun tidak lepas dari kerja keras dan bimbingan intensif yang diberikan oleh guru Bahasa Jawa, Gayatri Kumala, selama dua minggu menjelang kompetisi dimulai.(gkw)