Sleman (MTs N 10 Sleman)  — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Madrasah Tsanawiyah (MTs) menyelenggarakan Workshop Pembuatan RPP Deep Learning dengan Inersia Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Selasa, 27 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di MTs Darul Ulum Sinar Melati IIBS dan diikuti oleh guru mata pelajaran IPA MTs negeri maupun swasta.

Workshop ini menghadirkan Pengawas Madrasah, Asih Budiarti, S.Pd., M.Sc., sebagai narasumber utama. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru IPA dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan pendekatan deep learning dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran IPA.

Dalam pemaparannya, Asih Budiarti menjelaskan bahwa penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah dilaksanakan melalui empat kegiatan utama, yaitu:

  1. Intrakurikuler,
  2. Kokurikuler,
  3. Ekstrakurikuler, dan
  4. Iklim atau budaya madrasah.

Keempat komponen tersebut saling terintegrasi dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga madrasah. Setiap madrasah diharapkan memiliki Tim KBC, Tim Pengembang Kurikulum, serta Tim Kokurikuler. Secara administratif, harus ada pihak yang bertanggung jawab secara jelas terhadap pelaksanaan KBC agar program berjalan terarah dan berkelanjutan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan program yang bersifat progres sekaligus berorientasi pada hasil, tidak hanya pada capaian kognitif, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki tugas utama untuk menanamkan ilmu pengetahuan dan karakter secara seimbang dalam proses pembelajaran.

Dalam sesi diskusi, beberapa peserta menyampaikan pertanyaan dan refleksi. Bu Titik mengungkapkan bahwa guru masih mengalami kebingungan dalam merumuskan, menuangkan, dan menempatkan pengalaman belajar peserta didik ke dalam RPP berbasis deep learning. Sementara itu, Bu Saptini memohon arahan lebih lanjut terkait integrasi materi pembelajaran IPA dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta agar dapat diterapkan secara kontekstual di kelas.

Menanggapi hal tersebut, narasumber menegaskan pentingnya kreativitas dan kemandirian guru dalam menyusun perangkat ajar. RPP hendaknya disusun oleh guru sendiri sebagai karya mandiri, bukan sekadar menyalin, sehingga memberikan kepuasan profesional dan mencerminkan kebutuhan nyata peserta didik di madrasah masing-masing.

Melalui workshop ini, diharapkan guru IPA MTs mampu menyusun RPP yang bermakna, mendalam, dan berorientasi pada penguatan karakter, sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta dalam menciptakan pembelajaran yang humanis dan berdaya guna. (ikd)