Sleman (MTsN 10 Sleman) – Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan keselarasan kurikulum, MTsN 10 Sleman menyelenggarakan kegiatan “Penyusunan RPP Berbasis Knowledge-Based Curriculum (KBC) dan Sosialisasi Kegiatan Kokurikuler” ,Jumat (13/2/2026). Bertempat di ruang baca Perpustakaan Darul Ilmi, kegiatan ini diikuti oleh 23 guru dengan menghadirkan Pengawas Pembina, Asih Budiati, S.Pd., M.Sc., sebagai narasumber utama.

Kepala MTsN 10 Sleman, Paijo, S.Ag., dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara peran guru dengan program pemerintah serta kebutuhan masyarakat. Ia menggarisbawahi jargon “Kompak, Bergerak, Berdampak” sebagai semangat dalam bekerja. “Bekerja harus ada pedoman dari pimpinan,” tegasnya.
Selain itu, Kepala Madrasah memaparkan kembali pentingnya program “Murid Cinta Masjid” sesuai arahan Pemerintah Daerah Sleman. “Kita perlu menekankan nilai-nilai moral kecintaan terhadap masjid kepada murid guna mengatasi krisis remaja saat ini,” ujar Paijo.
Terkait kedisiplinan siswa, Paijo mengingatkan para guru untuk menggunakan pendekatan yang lebih humanis. “Sapa anak-anak kita. Sering kali anak melanggar karena kurang perhatian. Jadikan proses penyusunan RPP ini sebagai jalan menciptakan pembelajaran bermakna yang menjadi amal jariyah bagi kita semua.”
Memasuki sesi inti, Asih Budiati, S.Pd., M.Sc., memaparkan langkah-langkah strategis dalam penyusunan RPP. Menurutnya, langkah awal yang krusial adalah identifikasi murid dan identifikasi pra-pembelajaran.
“Guru memiliki otonomi untuk menentukan hal ini. Aspek metakognitif sangat penting untuk membantu anak-anak berimajinasi dan memahami konsep secara mendalam,” terang Asih.
Asih memaparkan empat poin penting dalam penyusunan RPP berbasis KBC:
- Integrasi Pancacita: Topik, tujuan, dan materi pembelajaran harus inklusif terhadap nilai Pancacita (Cinta pada Allah, ilmu, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air).
- Dimensi Profil Lulusan: Menitikberatkan pada keimanan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
- Model Pembelajaran: Guru didorong menggunakan model yang variatif seperti Problem Based Learning (PBL), Inquiry, maupun Project Based Learning (PjBL) atau Lok R.
- Manajemen Waktu: Penggunaan alokasi waktu harus efektif. “Lebih baik menuntaskan pembahasan meski hanya satu soal, daripada mengejar banyak materi namun tidak terserap maksimal.”
Pada kesempatan yang sama, dibahas pula prinsip kegiatan kokurikuler. Asih menjelaskan bahwa kokurikuler adalah pembelajaran yang terlepas dari Capaian Pembelajaran (CP) mata pelajaran tertentu, karena tujuannya adalah membangun karakter positif siswa. “Kokurikuler tidak mengacu kepada mata pelajaran tertentu secara spesifik,” tuturnya.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini diharapkan mampu memantik guru MTsN 10 Sleman dalam menciptakan pembelajaran yang lebih berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. (nsw)